PENYUSUNAN KISI-KISI INSTRUMEN KEGIATAN PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS DISRUPTIVE DALAM TIGA DOMAIN YAITU SIKAP PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN

Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel "Disruptive Technologies: Catching the Wave" di jurnal Harvard Business Review (1995). Artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan. Kemudian pada bukunya "The Innovator's Dilemma", Christensen memperkenalkan model Disruptive Inovasi (The Disruptive Innovation Model). Dimana kemampuan pelanggan untuk memanfaatkan sesuatu yang baru dalam satu lini. Dimana lini terendah adalah pelanggan yang cepat puas dan yang tertinggi digambarkan sebagai pelanggan yang menuntut. Distribusi pelanggan ini yang secara median nya bisa diambil sebagai garis putus-putus untuk menerapkan teknologi baru.

Selain diskrutif terjadi pada sarana transpotasi, ekonomi, dan aspek lainya, disikrutif juga terjadi pada pendidikan. Belakangan ini pendidikan juga mulai berinovasi dalam melakukan berbagai layanan, sampai pada munculnya MOOCs yaitu kursus secara online yang mampu mengancam eksistensi perguruan tinggi. Sebuah era dimana terjadi perubahan yang sangat signifikan guna memudahkan, memunculkan efisiensi dan efektifitas dalam kehidupan meninggalkan cara hidup lama dan konvensional. inilah sebuah inovasi diskruftif (Disruptive Innovation).

MOOCs (Massive Online Open Courses) telah mengembangkan batas-batas pendidikan yang lebih tinggi. MOOCs merupakan metode belajar-jarak-jauh dengan skala-besar, gratis dan bisa diakses siapa saja dan di mana saja mereka berada di dunia. Mereka membantu menyediakan kursus-kursus level-universitas untuk siapa saja yang kurang mampu ataucukup berkenan untuk mendapatkan gelar sarjana mereka di institusi level unggul atau berkuliah di luar. MOOCs disediakan di beberapa platform; platform yang umum meliputi, Coursera, Udacity, edx, Akademi Khan, dan Duolingo. Penyelenggara jurusan MOOCs ini ditawarkan oleh universitas-universitas terkemuka dari seluruh dunia. Jurusan-jurusan ini biasanya memiliki waktu yang sama dengan semester dan kurikulum mahasiswa yang mengambil jurusan tersebut sepenuhnya di universitas. Banyak professor mengajar jurusan-jurusan ini, dengan dukungan dari universitas, berinteraksi dengan mahasiswa melalui group telepon, diskusi di forum, atau saran di tugastugas. Banyak mahasiswa yang juga membuat pertemuan lokal dan kelompok belajar online. Dengan adanya kelas online, ini tidak menjadi hambatan untuk membagi ide dan tugas kelompok.

MOOCs merupakan pemicu awal dari munculnya era diskutif khususnya pada perguruan Tinggi. Perguruan tinggi sebaiknya menyiapkan diri menghadapi pasar yang terkena imbas perubahan mendasar dan ”mengacaukan” karena pasar pendidikan berubah dari berorientasi pada penawaran menjadi permintaan. Konsumenlah yang menentukan jenis pengetahuan apa yang akan dibelinya; mereka tidak lagi berminat pada paket mata kuliah yang belum disesuaikan dengan pasar untuk memperoleh tidak hanya ilmu, tetapi bersamaan dengan itu juga keterampilan yang diperlukan di pasar kerja. Keadaan tersebut berdampak pada komposisi mahasiswa dengan status purnawaktu, yang pada gilirannya juga akan berdampak pada keperluan akan dosen, yang kemungkinan besar juga tidak banyak dibutuhkan dosen tetap. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mengubah tujuan segmen pasar yang akan dilayaninya, yang berkemungkinan besar sangat berbeda dari sekarang.

Inovasi diskruptif yang terjadi pada perguruan tinggi khususnya dengan munculnya berbagai cara belajar jarak jauh, serta kursus-kursus secara online yang mulai muncul akan memberikan tantangan, ancaman sekaligus pembaruan dalam cara belajar seseorang. Seperti yang dapat kita lihat saat ini orang lebih suka dan tertarik melihat tutorial yang ada di youtube misalnya untuk memecahkan masalah baru. Bukan lagi bertanya pada guru atau figure yang dianggap mampu. Cara belajar dan kebutuhan yang berubah inilah yang harus disikapi dengan bijak oleh lembaga pendidikan khsusunya di Indonesia. Adopsi teknologi informasi dalam proses pembelajaran merupakan hal yang tidak terhindarkan.

1.      Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Penilaian Sikap

Krathwohl (1961) dalam Mardapi, menyebutkan tingkatan ranah afektif menurut  taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.

Pemikiran atau perilaku memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif.

1.      Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang.

2.      Kedua, perilaku harus khas/ciri khusus seseorang.

Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. 

Pada saat menyusun spesifikasi instrumen afektif perlu memperhatikan empat hal yaitu 1) tujuan pengukuran, 2) kisi-kisi instrumen, 3) bentuk dan format instrumen, dan 4) panjang instrumen.

 

2.      Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Penilaian Pengetahuan

Penilaian aspek pengetahuan dilakukan dengan berbagai teknik penilaian. Dalam penilaian aspek ini pendidik diharapkan mampu membuat perencanaan dengan cara mengidentifikasi setiap kompetensi dasar atau materi pembelajaran sebelum menentukan bentuk penilaian yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dasar yang akan diukur. Perencanaan penilaian dilakukakan saat pendidik menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Penilaian pengetahuan dapat dicermati dalam dua perspektif (Bloom Taxonomy), yaitu dimensi pengetahuan yang diklasifikasikan menjadi faktual, konseptual, prosedural, serta metakognitif. Dan dimensi proses kognitif ini tersusun secara hirarkis mulai dari mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), menilai (evaluating), dan mencipta (creating). Tahapan tahapan pengetahuan tersebut merupakan perbaikan yang dilakukan Krathwohl terhadap taksonomi Bloom. Dimensi pengetahuan yang dinilai beserta contohnya disajikan dalam Tabel  berikut ini (Anderson, et.al., 2001).

3.      Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Penilaian Keterampilan

Para ahli memberikan penjelasan tentang ranah psikomotor sebagai berikut:

1.      hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap, yaitu: imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi (Dave, 1967);

2.      mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan (Singer, 1972);

3.      hasil belajar psikomotor ada menjadi tiga, yaitu: specific responding, motor chaining, rule using (Buttler, 1972);

4.      berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan’manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik (Bloom, 1979); dan

5.      keterampilan psikomotor ada enam tahap, yaitu: gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, gerakan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursif (Mardapi, 2003).

 

Dalam rangka melakukan pengukuran hasil belajar ranah psikomotor, ada dua hal yang perlu dilakukan oleh pendidik, yaitu membuat soal dan membuat perangkat/ instrumen untuk mengamati unjuk kerja peserta didik. Soal untuk hasil belajar ranah psikomotor dapat berupa lembar kerja, lembar tugas, perintah kerja, dan lembar eksperimen. Instrumen untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat berupa lembar observasi atau portofolio (Puspendik, 2015)

Permasalahan : Apa pendapatmu mengenai era disruptive di bidang pendidikan ?

Comments

  1. Menurut saya kaitan era disruptive dengan pendidikan yaitu banyak sekali kita jumpai penemuan baru dalam pendidikan, misalnya saja model ujian yang dulunya menggunakan kertas sekarang berbasis komputer, model pembelajaran e-learning dan sebagainya. Tidak dipungkiri, munculnya hal tersebut erat kaitannya dengan era digital dan internet. Multimedia dapat dikatakan inovasi ‘mengganggu’ yang kemudian menjadi nilai tambah dalam suatu proses pembelajaran. Multimedia merupakan salah satu Disruptive innovation yang berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia. Teknologi Internet memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi apa saja, dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan cepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya setuju dengan tanggapan aulia bahwa kaitan era disruptive dengan pendidikan sudah banyak sekali kita jumpai penemuan baru dalam pendidikan. Selain yang disampaikan aulia di atas, konsep disruptive innovation tidak selalu harus menciptakan produk baru melainkan membuat konsumen pendidikan mendapatkan layanan yang lebih murah, lebih sederhana, lebih kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Berbagai inovasi di atas menjadikan siswa dan konsumen pendidikan akan memudahkan mereka untuk mendapatkan layanan dari pihak sekolah terutama pada saat jarak jauh.

      Delete

Post a Comment