Proses Pembelajaran Kimia Abad 21
Desain instruksi adalah fitur penting dalam pendidikan guru dalam pemenuhan kebutuhan 4C (berpikir kritis, komunikator, kolaborator, kreator) mengembangkan "pembelajar yang kompetitif secara global". Sebagai desain Instruksional model (ID) perlu beralih dari mengadopsi standar pendekatan untuk mengembangkan model yang berdampak pada profil pelajar, menciptakan pengalaman belajar yang jauh lebih baik, keterampilan dan pengetahuan baik di kelas maupun online. Model ID tradisional harus dimodelkan ulang dan dirancang ulang untuk memberikan instruksi yang lebih berpusat pada pelajar daripada berpusat pada proses. An Integral ASIE Model Desain Instruksional (Analisis, Strategi, Implement dan Evaluate) adalah Model ID perencanaan online yang sebagai alternatif dari model ID tradisional yang ada yang mendukung pembelajaran experiential dan kolaboratif bagi peserta didik memperoleh dan memproduksi kembali informasi. Hal ini interaktif untuk pengguna, integratif dalam merencanakan konten, reseptif dalam prosedur perencanaan dan konstruktif dalam organisasi komponen. Instruktur/pengajar merencanakan pengajaran mereka di mekanisme perencanaan yang dikenal sebagai Multiple Integration Lembar kerja (MIW) dengan berinteraksi di dalam dan di antara komponen dalam "Siklus Pantulan" model dan memungkinkan berbagi informasi di antara guru di seluruh negara. Fitur unik ini memberikan fleksibilitas dalam penyesuaian dan membimbing instruktur/guru dalam merumuskan & mengintegrasikan praktik desain terbaik yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi potensi mereka membangun yang lebih partisipatif, komunikatif dan lingkungan belajar yang inovatif.
Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan
siswa untuk berpikir kritis, mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata,
menguasai teknologi informasi komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian
ketrampilan tersebut dapat dicapai dengan penerapan metode pembelajaran yang
sesuai dari sisi penguasaan materi dan ketrampilan.
Kemampuan
berpikir kritis siswa dibangun melalui pembelajaran yang menerapkan
taksonomi pembelajaran sebagaimana disampaikan oleh Benyamin Bloom
tahun 1956 yang telah direvisi pada tahun 2001. Bloom membagi tujuan pendidikan
menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan
pendidikan mengalami penyempurnaan pada tahun 2001 (Anderson
dan Krathwohl, 2001). Taksonomi pembelajaran dikelompokan dalam
dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif.
Dimensi
proses pengetahuan terdiri empat bagian yaitu faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif. Krathwohl (2002), Anderson & Krathwohl
(2001) menyebutkan bahwa pengetahuan faktual menekankan pada pengetahuan
faktual, yaitu pengetahuan yang berupa potongan-potongan informasi yang
terpisah-pisah atau unsur dasar yang ada dalam suatu disiplin ilmu tertentu,
yang mencakup pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang bagian
detail. Pengetahuan faktual menyajikan fakta-fakta yang muncul dalam
pengetahuan. Pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan yang menunjukkan saling
keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan
semuanya berfungsi sama-sama, yang mencakup skema, model pemikiran dan teori.
Pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan
sesuatu, baik yang bersifat rutin maupun yang baru, dan Pengetahuan
metakognitif, yaitu mencakup pengetahuan tentang kognisi secara umum dan
pengetahuan tentang diri sendiri.
Proses
pembelajaran yang mampu mengakomodir kemampuan berpikir kritis siswa tidak
dapat dilakukan dengan proses pembelajaran satu arah. Pembelajaran satu arah, atau
berpusat pada guru, akan membelenggu kekritisan siswa dalam mensikapi suatu
materi ajar. Siswa menerima materi dari satu sumber, dengan kecenderungan
menerima dan tidak dapat mengkritisi. Kemampuan berpikir kritis dibangun dengan
mendalami materi dari sisi yang berbeda dan menyeluruh.
Kemampuan
menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak siswa melihat
kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap materi ajar terhadap penerapan
dalam kehidupan penting untuk mendorong motivasi belajar siswa. Secara khusus
pada dunia pendidikan dasar yang relatif masih berpikir konkrit, kemampuan guru
menghubungkan setiap materi ajar dengan kehidupan nyata akan meningkatkan
penguasaan materi oleh siswa. Menghubungkan materi dengan praktik sehari-hari
dan kegunaannya dapat meningkatkan pengembangan potensi siswa.
Penguasaan
teknologi informasi komunikasi menjadi hal yang harus dilakukan oleh semua guru
pada semua mata pelajaran. Penguasaan TIK yang terjadi bukan dalam tataran
pengetahuan, namun praktik pemanfaatnyanya. Metode pembelajaran yang dapat
mengakomodir hal ini terkait dengan pemanfaatan sumber belajar yang variatif.
Mulai dari sumber belajar konvensional sampai pemanfaatan sumber belajar
digital. Siswa memanfaatkan sumber-sumber digital, baik yang offline maupun online.
Membuat produk berbasis TIK, baik audio maupun audiovisual.
Kecakapan
berkolaborasi menunjukkan sikap penerimaan terhadap orang lain, berbagi dengan
orang lain, dan bersama-sama dengan orang lain mencapai tujuan bersama.
Paradigma pembelajaran kolaboratif memfasilitasi siswa berada dalam peran
masing-masing, melaksanakannya, dan bertanggungjawab. Sikap individualistik,
mau menang sendiri, dan bekerja sendiri akan mengurangi kemampuan siswa dalam
menyiapkan diri menyongsong masa depannya. Setiap kompetensi yang ada pada
masing-masing dikolaborasikan, sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan
pencapaian hasil.
Beers
menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa dalam
mencapai kecakapan abad 21 harus memenuhi kriteria sebagai berikut : kesempatan
dan aktivitas belajar yang variatif; menggunakan pemanfaatan teknologi untuk
mencapai tujuan pembelajaran; pembelajaran berbasis projek atau masalah;
keterhubungan antar kurikulum (cross-curricular connections); fokus pada
penyelidikan/inkuiri dan inventigasi yang dilakukan oleh siswa; lingkungan
pembelajaran kolaboratif; visualisasi tingkat tinggi dan menggunakan media
visual untuk meningkatkan pemahaman; menggunakan penilaian formatif termasuk
penilaian diri sendiri.
Kesempatan
dan aktivitas belajar yang variatif tidak monoton. Metode pembelajaran
disesuaikan dengan kompetensi yang hendak dicapai. Penguasaan satu kompetensi
ditempuh dengan berbagai macam metode yang dapat mengakomodir gaya belajar
siswa auditori, visual, dan kenestetik secara seimbang. Dengan demikian
masing-masing siswa mendapatkan kesempatan belajar yang sama.
Pemanfaatan
teknologi, khususnya tekonologi informasi komunikasi, memfasilitasi siswa
mengikuti perkembangan teknologi, dan mendapatkan berbagai macam sumber dan
media pembelajaran. Sumber belajar yang semakin variatif memungkinkan siswa
mengekplorasi materi ajar dengan berbagai macam pendekatan sesuai dengan gaya
dan minat belajar siswa.
Pembelajaran
berbasis projek atau masalah, menghubungkan siswa dengan masalah yang dihadapai
dan yang dijumpai dalam kehidupam sehari-hari. Bertitik tolak dari masalah yang
diinventarisis, dan diakhiri dengan strategi pemecahan masalah tersebut, siswa
secara berkesinambungan mempelajari materi ajar dan kompetensi dengan
terstruktur. Pada pembelajaran berbasis projek, pemecahan masalah dituangkan
dalam produk nyata yang dihasilkan sebagai sebuah karya penciptaan siswa. Pada
pembelajaran berbasis masalah/projek pembelajaran juga fokus pada
penyelidikan/inkuiri dan inventigasi yang dilakukan oleh siswa.
Keterhubungan
antar kurikulum (cross-curricular connections), atau kurikulum
terintegrasi memungkinkan siswa menghubungkan antar materi dan kompetensi
pembelajaran, dengan demikian pembelajaran dapat lebih bermakna, dan
teridentifikasi manfaat mempelajari sesuatu. Pembelajaran ini didukung
lingkungan pembelajaran kolaboratif, dapat memaksimalkan potensi siswa.
Didukung dengan visualisasi tingkat tinggi dan penggunaan media visual dapat
meningkatkan pemahaman siswa.
Sebagai
akhir dari sebuah proses pembelajaran, penilaian formatif menunjukan sebuah
pengendalian proses. Melalui penilaian formatif, dan didukung dengan penilaian
oleh diri sendiri, siswa terpantau tingkat penguasaan kompetensinya, mampu
mendiagnose kesulitan belajar, dan berguna dalam melakukan penempatan pada saat
pembelajaran didisain dalam kelompok.
Pandangan
Beers tersebut memperjelas bahwa proses pembelajaran untuk menyiapkan siswa
memiliki kecakapan abad 21 menuntut kesiapan guru dalam merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Guru memegang peran sentral
sebagai fasilitator pembelajaran. Siswa difasilitasi berproses menguasai materi
ajar dengan berbagai sumber belajar yang dipersiapkan. Guru bertugas mengawal
proses berlangsung dalam kerangka penguasaan kompetensi, meskipun pembelajaran
berpusat pada siswa.
Menurut saya, akan kesulitan menerapkan pembelajaran abad 21 didaerah terpencil karena sarana dan prasarana yang kurang memadai. Namun ada 4 prinsip pembelajaran abad 21 yang bisa diadaptasikan kedalam pembelajaran oleh guru didaerah terpencil dengan: (1) menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menggambarkan aktivitas siswa, guru, pemanfaatan media pembelajaran dan proses penilaian; (2) memperbarui pengetahuan sesuai perkembangan zaman; (3) menerapkan berbagai strategi pembelajaran untuk memberi variasi pengalaman belajar; dan (4) meningkatkan kreatifitas untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa selalu tertarik ke sekolah. Mengembangkan keempat kegiatan pembelajaran tersebut mendorong guru menciptakan pembelajaran berasaskan prinsip pembelajaran abad 21. Namun, para guru tetap perlu untuk menguasai teknologi yang terkait langsung terhadap pembelajarannya. Hal ini dikarenakan perubahan adalah sebuah kepastian sekarang ataupun nanti. Oleh karena itu, pemerintah secara bertahap dan berkesinambungan mengupayakan pemerataan bantuan TIK yang menjangkau seluruh daerah di Indonesia.
ReplyDeleteSaya ingin menambahkan dari yang dijelaskan oleh nurul bahwa pembelajaran di daerah terpencil ini membutuhkan perhatian yang khusus. Pembelajaran dimulai dengan memperbarui pengetahuan bukan berarti menitiberatkan pembelajaran pada alat TIK. Teknologi dan Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan bukanlah sebagai tujuan pendidikan abad 21. Kualitas terbaik guru daerah terpencil menyeimbangkan ketidaksediaan alat TIK dalam pembelajaran. Guru harus mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, efektif dan efisien serta membekali siswa dengan berbagai skill. Kegiatan pembelajaran yang disusun menganut empat prinsip pokok pembelajaran abad 21 sebagaimana yang dirumuskan ada empat prinsip pembelajaran abad 21 yakni (1) pembelajaran berpusat pada siswa; (2) siswa mampu berkolaborasi dengan teman ataupun orang lain; (3) pembelajaran diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari; dan (4) sekolah terintegrasi dengan masyarakat. Keempat prinsip pembelajaran abad 21 tersebut diadaptasikan kedalam pembelajaran oleh guru dengan cara yang dijelaskan nurul di atas
DeleteSaya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari lili, bahwa penerapan pembelajaran pada abad 21 di daerah terpencil masih banyak terdapat hambatan dan kurang terealisasi, adapun
ReplyDeletehambatan tersebut berupa: (1) fasilitas sarana dan prasarana, hambatan selain belum terpenuhinya fasilitas TIK adalah perpustakaan. Beberapa sekolah belum memiliki ruang khusus dan kekurangan buku serta buku yang tersedia tidak terbarukan. Buku terbarukan adalah solusi mendapatkan informasi tanpa internet dan memotivasi siswa belajar mandiri; (2) keprofesionalan guru, tidak meratanya sebaran guru ataupun kurangnya guru pelajaran tertentu menyebabkan guru mengajar bukan berdasarkan disiplin ilmu. Mengganti kekosongan guru mengurangi fokus guru melahirkan ide-ide kreatif dalam pelajaran yang diampunya; dan (3) kurikulum, menyamakan standar dan perlakuan pembelajaran nasional tanpa menyamakan fasilitas sekolah memerlukan pengkajian kembali. Informasi ini memberi titik terang apa yang harus dilakukan pemerintah dan guru dalam mendukung pembelajaran abad 21.
Menurut saya abad 21 yang ditadai dengan kehadiran era media (digital age) sangat berpengaruh pada pengelolaan pembelajaran dan perubahan karateristik siswa. Pembelajaran abad 21 menjadi keharusan untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi, serta pengelolaan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam mengembangkan pembelajaran abad 21, guru dituntut merubah pola pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru (teacher centred) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centred) karena sumber belajar melimpah bukan hanya bersumber guru, sehingga peran guru menjadi fasilitator, mediator, motivator sekaligus leader dalam proses pembelajaran. Pola pembelajaran yang konvensional bisa dipahami sebagai pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah (transfer of knowledge) sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal. Kemampuan pedogogi dengan pola konvensional dipandang sudah kurang tepat dengan era saat ini.Pada daerah terpencil tantangan bagi guru saat memberikan pelajaran pada para siswanya adalah siswa yang diberikan pelajaran mempunyai pengalaman yang sedikit dibandingkan dengan siswa yang ada diperkotaan yang sudah banyak melihat dan menikmati kemajuan teknologi. Siswa daerah terpencil biasanya hanya berkutat di daerahnya saja sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan ataupun mengetahui apa saja yang sudah terjadi di luar daerahnya, sehingga para guru dituntut untuk bisa lebih kreatif memperkenalkan kemajuan-kemajuan yang ada atau yang sudah terjadi di luar daerahnya.
ReplyDeletedisini saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari lili, solusi untuk menyukseskan pendidikan abad 21 di daerah terpencil, perlu: (1) mempercepat pemerataan fasilitas pembelajaran diseluruh daerah tanpa terkecuali; (2) membangun perpustakaan, menyediakan buku belajar baik fiksi maupun non fiksi untuk mendorong budaya literasi siswa; (3) menyediakan alat peraga sebagai visualisasi materi ajar guna mendukung pembelajaran tanpa teknologi; (4) melakukan kajian kurikulum khusus daerah terpencil; (5) membentuk guru peneliti dari guru-guru daerah terpencil untuk merumuskan strategi pembelajaran sesuai kondisi daerah; (6) memprogramkan pertukaran guru antara guru daerah terpencil dengan daerah berkembang untuk menghasilkan ide-ide kreatif dalam pembelajaran serta menyesuaikan kebutuhan guru di sekolah; (7) memfasilitasi pelatihan guru untuk meningkatkan kualitasnya terkait pembelajaran abad 21 sesuai kondisi daerah; dan (8) mempercepat program internet masuk ke daerah terpencil.
ReplyDeleteSaya setuju dengan pendapat teman-teman yang lain. Siswa-siswi sekolah satu atap tetap harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dibalik semua keterbatasan yang ada. Berkualitas bukan dalam artian fasilitas yang cukup atau sarana prasarana yang memadai, namun lebih dari kualitas pengajaran. Berbagai keterampilan abad ke-21 seperti keterampilan pemecahan masalah, inovasi, komunikasi efektif, kerjasama, kemandirian, literasi media dan informasi, wawasan global, tanggung jawab sosial dan berpikir kritis harus mereka dapatkan agar mampu bersaing kelak di masa depan yang begitu kompleks.
ReplyDeletePemanfaatan TIK di kelas untuk memberi para siswa pengalaman belajar yang kaya juga perlu “diupayakan”. Hal ini tidak wajib namun perlu, karena para siswa butuh wawasan tentang bagaimana teknologi dapat membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di dunia nyata, yang saat ini menjadi tumpuan dalam dunia kerja. Pemanfaatan TIK secara sederhana di kelas dapat dimulai dengan menggunakan satu buah komputer (milik guru atau sekolah) dan LCD Proyektor dalam pembelajaran apapun, namun bukan dengan pelatihan keterampilan TIK seperti kursus komputer yang khusus mengajarkan keterampilan komputer namun aktifitasnya terintegrasi dalam semua mata pelajaran.
Pola pembelajaran abad 21 di era revolusi industri 4.0 memberi tantangan dalam dunia pendidikan. Masing-masing daerah baik daerah terpencil maupun daerah berkembang memiliki tantangan tersendiri. Namun, tantangan tidak boleh menjadi sebuah hambatan. Pendidikan harus membawa perubahan untuk mencetak generasi yang bermartabat untuk hidup lebih sejahtera. Upaya menjawab tantangan abad ini harus didukung dari berbagai pihak baik pemerintah dan guru. Pemerintah dan guru memiliki perannya masing-masing untuk mewujudkan cita-cita nasional.
ReplyDeletejadi penerapan pembelajaran abad 21 didaerah terpencil butuh upaya dari berbagai pihak terutama pemerintah itu sendiri