Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran Kimia

 

Menurut Filbeck (dalam Suparman, 2001) terdapat dua belas prinsip pembelajaran dalam pembelajaran untuk dijadikan perhatian para perancang pembelajaran, yaitu:

1.       Respon-respon baru diualang sebagai akibat dari respon tersebut. Bila respon itu berakibat menyenangkan, mahasiswa (learner) cenderung untuk mengulang respon tersebut karena memelihara akibat yang menyenangkan. Implikasi dalam kegiatan pembelajaran antara lain: perlunya pemberian umpan balik positif dengan segera atas keberhasilan atau respon yang benar dari peserta didik dan sebaliknya peserta didik harus aktif membuat respon.

2.       Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda yang terdapat dalam lingkungan peserta didik. Implikasi prinsip ini pada teknologi pembelajaran adalah perlunya menyatakan tujuan pembelajaran secara jelas kepada peserta didik sebelum pembelajaran dimulai.

3.       Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan pemberian akibat yang menyenamgkan. Implikasi prinsip ini adalah pemberian isi pelajaran yang berguna pada peserta didik di dunia luar dan memberikan umpan balik berupa imbalan dan penghargaan terhadap keberhasilannya.

4.       Belajar yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas pula. Imlikasinya adalah pemberian kegiatan belajar pada peserta didik yang sesuai dan berhubungan dengan dunia nyata/kehidupan sehari-hari.

5.       Belajar menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti pemecahan masalah. Implikasi dari prinsip ini adalah pemberian contoh secara jelas atas materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik.

6.       Status mental mahasiswa untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan mahasiswa selama proses belajar. Imlplikasinya adalah pentingnya menarik perhatian peserta didik untuk mempelajari isi pelajaran.

7.        Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik untuk penyelesaian setiap langkah akan membantu sebagian besar mahasiswa. Implikasinya adalah digunakannya bahan belajar terprogram dan analisis pengalaman belajar peserta didik menjadi kegiatan-kegiatan kecil disertai latihan dan pemberian umpan balik.

8.       Kebutuhan memecah materi belajar yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil akan dapat dikurangi bila materi belajar yang kompleks dapat diwujudkan dalam suatu model. Implikasinya adalah penggunaan media dan metode pembelajaran yang dapat menggambarkan materi yang kompleks.

9.       Keterampilan tingkat tinggi seperti keterampilan mermecahkan masalah adalah perilaku kompleks yang terbentuk dari komposisi keterampilan dasar yang lebih sederhana. Implikasinya adalah perumusan tujuan umum pembelajaran dalam bentuk hasil belajar yang operasional agar dapat dianalisis menjadi tujuantujuan yang lebih khusus.

10.   Belajar cenderung menjadi cepat dan efisien serta menyenangkan bila mahasiswa diberi informasi bahwa ia menjadi lebih mampu dalam keterampilan memecahkan masalah. Implikasinya adalah pengurutan pelajaran harus dimulai dari yang sederhana secara bertahap menuju kepada yang lebih komples dan kemajuan peserta didik dalam menyelesaikan pelajaran harus diinformasikan kepadanya agar keyakinan kepada kemampuan dirinya lebih besar.

11.   Perkembangan dan kecepatan belajar mahasiswa bervariasi, ada yang maju dengan cepat, ada yang lebih lambat. Implikasinya adalah pentingnya penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran menjadi prasarat sebelum mempelajari materi selanjutnya dan peserta didik diberikan kesemapatan maju menurut kecepatan masing-masing.

12.   Dengan persiapan mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar. Implikasinya adalah pemberian kemungkinan bagi peserta didik untuk memilih waktu, cara, dan sumber-sumber lain disamping yang sudah ditetapkan.

Reiser & Dempsey, 2007 mengemukakan bahwa desain instruksional bersifat dinamis, dan makna cybernetic bahwa unsur-unsur dapat diubah dan berkomunikasi atau bekerja sama dengan mudah. Ciri-ciri dari saling tergantung, sinergis, dinamis, dan cybernetic diperlukan dalam rangka untuk memiliki proses desain instruksional yang efektif. Selain itu, desain instruksional berpusat pada belajar, berorientasi pada tujuan utama, termasuk kinerja bermakna, termasuk hasil yang terukur adalah mengoreksi diri dan empiris serta merupakan upaya kolaborasi.

Permasalahan : apakah kendala yang dihadapi perancang pembelajaran dalam mendesain pembelajaran yang baik dan dapat digunakan oleh banyak pengajar disuatu Negara ?

Comments

  1. Baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari Nurazlina, apakah kendala yg dihadapi perancang pembelajaran yang baik dan dapat digunakan oleh banyak pengajar disuatu negara? Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar, Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama, Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang. sebaiknya mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut sebaiknya membimbing siswa. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator. Oleh karena itu, pengajaran minimal harus dipandang sebagai suatu proses sistematis dalam merencanakan, mendesain, mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan pembelajaran secara efektif dalam jangka waktu yang layak.

    ReplyDelete
  2. Menurut saya salah satu kendala yang dihadapi perancang pembelajaran dalam mendesain pembelajaran yaitu Seseorang dalam belajar memiliki potensi yang perlu dikembangkan. Tindakan atau perilaku belajar dapat ditata atau dipengaruhi, tetapi tindakan atau perilaku belajar itu akan tetap berjalan sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa yang lambat dalam berfikir, tidak mungkin dipaksa dalam bertindak secara cepat. Sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi tidak mungkin dipaksa bertindak dengan cara lambat. Dalam hal ini, jika perencanaan pembelajaran tidak diacukan pada individu yang belajar seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang lambat belajar akan makin tertinggal. Akibatnya proses pembelajaran dalam suatu kelompok tertentu akan banyak mengalami hambatan karena perbedaan karakteristik siswa yang diperhatikan.

    ReplyDelete
  3. saya setuju dengan pendapat nurul karena Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar, Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama, Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sependapat dengan mellycha. Pelaksanaan pembelajaran erat kaitannya dengan penciptaan lingkungan yang memungkinkan siswa belajar secara aktif, pengembangan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa, penyesuaian dengan rencana kegiatan dan pengelolaan kelas. Proses belajar mengajar harus berorientasi kepada lingkungan tanpa mengabaikan prinsip-prinsip kepribadian, dan hasil pendidikan harus bermanfaat dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kegiatan belajar mengajar dikatakan berhasil dari proses apabila peserta didik terlibat secara aktif baik fisik maupun mental dalam proses belajar mengajar.

      Delete
  4. Kegiatan pendidik dalam merancang sistem pembelajaran tidak akan memperoleh keberhasilan yang optimal apabila pendidik hanya mengenal satu model desain pembelajaran saja. Pendidik perlu mengetahui beragam model supaya mampu menghasilkan program pembelajaran yang lebih efektif, efisien, dan menarik. Setiap model tertentu menerapkan langkahlangkah yang spesifik untuk pencapaian perolehan hasil belajar yang optimal tersebut. Pada satu sisi ada kelebihannya, dan di sisi lain ada keterbatasannya.

    Kemampuan untuk dapat melakukan analisis dan refleksi pada model-model pembelajaran tertentu sangat diperlukan oleh guru, dosen, atau perancang program pembelajaran tertentu guna menentukan solusi yang tepat dari berbagai alternatif yang ada. Solusi yang dihasilkan bermanfaat untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Selanjutnya untuk mengukur keakuratan solusi yang dijalankan dilakukan evaluasi, apakah solusi yang dipilih efektif serta efisien mengatasi masalah pembelajaran.

    ReplyDelete
  5. ujuan sebuah desain pembelajaran adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.

    Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar. Adanya variasi model yang ada ini sebenarnya juga dapat menguntungkan kita, beberapa keuntungan itu antara lain adalah kita dapat memilih dan menerapkan salah satu model desain pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik yang kita hadapi di lapangan, selain itu juga, kita dapat mengembangkan dan membuat model turunan dari model-model yang telah ada.
    kendala yang dihadapi oleh guru dlam mendesain pembelajaran akan muncul jika guru tersebut hanya berfokus pada 1model saja

    ReplyDelete

Post a Comment